Angklung Bungko

Misteri Angklung Bungko Bunyi Jika Tidak Didoakan

Posted on

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional berasal dari Jawa Barat, identik dengan Sunda. Di ujung timur Jawa Barat, tepatnya di Cirebon ada juga kesenian tradisional yang bernama angklung bungko.

Kesenian tradisional ini sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan dianggap sudah ada sejak zaman Hindu. Bentuk angklungnya sama persis dengan angklung yang kita kenal saat ini. Kesenian angklung bungko ini hanya ada di Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Yang menjadi pembeda antara Angklung Bungko dengan angklung biasa terletak pada penari pengiringnya. Angklung bungko selalu diiringi dengan penari tradisional. Kepada Desa Bungko Carkim mengatakan keberadaan Angklung Bungko lebih dari 500 tahunan.

Kesenian angklung bungko, lanjut Carkim, selalu ditampilkan saat merayakan tradisi desa, seperti Ngunjung Buyut Bungko dan sedekah bumi.

“Angklung bungko masih kita lestarikan. Tapi, kita menggunakan angklung tiruan. Angklung yang aslinya, yang usianya ratusan tahun kita simpan. Tidak kita gunakan sebagai pengiring penari. Diganti pakai angklung biasa,” ucap Carkim saat ditemui di Balai Desa Bungko,

Karena kondisi bambu yang sudah lapuk dan diyakini sebagai benda pusaka, sambung Carkim, menjadi alasan angklung kuno yang usia ratusan tahun itu sudah tak lagi digunakan. Carkim mengatakan kesenian angklung bungko menjadi simbol untuk mempersatukan atau mengumpulkan warga pada zaman dahulu. Selain itu, angklung bungko juga menjadi salah satu media untuk menyiarkan Islam.

“Tarian angklung bungko juga sebagai simbol untuk mempertahankan wilayah perbatasan pada zaman dahulu. Tarian angklung bungko itu berbeda dengan tarian lainnya, tidak luwes karena semacam tarian perang,” kata Carkim seraya menunjukkan video kesenian angklung bungko.

Di tempat yang sama, Jaso Ketua Sanggar angklung bungko mengatakan angklung kuno yang usianya ratusan sudah menjadi benda pusaka di Cirebon. Menurut sejarawan asal Jakarta, sambung Jaso, bambu angklung kuno yang ada di Bungko itu berasal dari Bali.

“Kata sejarawan sih bambunya dari Bali. Karena seratnya beda. Angklungnya sih sama, dari bambu. Cuma kalau di Bungko itu ada tariannya,” ucap Jaso.

Tarian angklung bungko lanjut Jaso, melambangkan tarian perang. Para penari, sambungnya, harus siaga. Para penari angklung bungku, lanjutnya, harus laki-laki.

Lebih lanjut, Jaso menyebutkan tarian angklung bungko memiliki lima jenis tarian, yakni panji, bantelio, ayam alas, bebek ngoyor, dan belarak singkli. Kelima tarian itu, sambungnya, melambangkan tarian saat perang.

“Tarian angklung itu semuanya harus tegak, layaknya orang perang. Gerakan siaga. Jadi, khusus para pria saja. Sejak dulu memang seperti itu,” ucap Jaso.

Setiap Malam Jumat, Angklung Kuno Selalu Dibacakan Doa

Usai menemui Jaso dan Carkim selaku Kepala Desa Bungko. Lalu ke rumah Adinah (60), salah seorang masyarakat Bungko yang memiliki angklung kuno asli Bungko. Lokasi rumah Adina tak jauh dari Balai Desa, jaraknya sekitar 200 meter.

Saat ditemui, Adinah langsung menunjukkan angklung kuno, yang kini dikeramatkan oleh masyarakat Bungko. Adinah menyimpan angklung kuno itu di kamarnya.

Angklung kuno itu berwarna hitam. Adinah menyelimuti angklung tersebut dengan kain warna putih. Di atas angklungnya terdapat hiasan. Bahkan, ada kembang dan kemenyan di sekitar tempat penyimpanan angklung itu. Menurut Adinah, angklung kuno yang ia miliki itu berjumlah tiga.

“Dulu orang tua saya yang pegang, sekarang saya. Secara turun temurun yang memegangnya. Setahun sekali dimandikan, setiap maulid,” kata Adinah saat ditemui di rumahnya.

Lebih lanjut, Adinah mengaku usia angklung tersebut sudah ratusan tahun. Ia tak bisa menyebutkan angka pasti usia angklung. Namun, menurut Adinah, angklung kuno sudah ada sejak zaman Hindu dulu, sebelum zaman keraton Islam masuk ke Cirebon.

“Setiap malam Jumat selalu dibacakan doa. Doanya juga pakai bahasa Jawa. Kalau tidak didoakan pernah bunyi sendiri, jadi saya doakan setiap malam Jumat,” kata Adinah.

Lagi, Adinah mengaku angklung kuno yang ia rawat itu sempat diboyong ke Jakarta. Saat itu, Presiden Soeharto meminta Adinah untuk tampil di pameran benda-benda kuno.

“Puluhan tahun lalu ya, waktu Soeharto mimpin. Empat hari empat malam di Jakarta, ikut pameran,” katanya.
Ia menambahkan saat ini angklung kuno menjadi benda pusaka yang memiliki kaitan dengan sejarah Desa Bungko. Ketika tampil, sambungnya, angklung kuno tak boleh dimainkan, namun diganti dengan angklung biasa.

“Dibawa hanya sebagai simbolis saja kalau tampil atau menghadiri acara tradisi di desa,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *