Duriat

Yuk Kenali Lebih Dekat Profil Calon Wali kota Bandung Pasangan Dony Mulyana Kusuma-Yayat Rustandi

Posted on

Pasangan pertama yang mendaftar adalah dari jalur peseorangan yakni Dony Mulyana Kusuma-Yayat Rustandi. Pasangan berjuluk DURIAT ini mendaftar pada Selasa 9 Januari 2018 dengan membawa 250 ribu e-KTP sebagai syarat dukungan tambahan yang masih kurang.

NAMA Dony Mulyana Kurnia mulai dikenal publik ketika ia maju di Pilkada Kabupaten Bandung tahun 2015 sebagai calon wakil bupati. Tetapi bersama pasangannya Deki Fajar, mereka hanya mampu memperoleh suara 10.77%. Kini, Dony kembali maju di Pilkada Kota Bandung melalui jalur perseorangan.

Dony Mulyana Kurnia sebenarnya merupakan kader Partai Demokrat. Ia bahkan menjabat Sekretaris Departemen Ristek dan Pendidikan Tinggi DPP Partai Demokrat. Pada Pilkada Kabupaten Bandung, ia diusung partainya yang berkoalisi dengan PDI Perjuangan.

Namun, pada Pilwalkot Bandung 2018, Demokrat lebih memilih mengusung kadernya yang lain yakni Chairul Yaqin Hidayat. Merasa pantas menduduki kursi wali kota, Dony pun maju melalui jalur independen bersama Yayat Rustandi.

Di politik, Dony Mulyana awalnya bergabung dengan Partai Bintang Reformasi. Ia kemudian pindah ke Partai Demokrat pada 2008 dan langsung menjabat Ketua Biro Perencanaan Departemen Pertahanan dan Keamanan DPP Partai Bintang Reformasi.

Dony, mengenyam pendidikannya di Bandung, yakni SDN Merdeka 5, SMPN 7, SMAN 10, serta S1, Jurusan Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut Dony, ada desakan dan animo masyarakat yang menghendaki wali kota Bandung mendatang minimal punya kemampuan seperti Ridwan Kamil. Latar pendidikan Dony yang sama dengan Kang Emil, membuatnya percaya diri untuk maju menggantikan sosok Kang Emil.

Sedari muda, Dony Mulyana Kurnia sudah aktif di berbagai kegiatan masyarakat. Ia bahkan pernah melakoni peran sebagai Ketua Karang Taruna RW 03 Kelurahan Babakan Ciamis, Kota Bandung.

Selain itu, Dony Mulyana terlibat aktif di organsasi seni bela diri, Shakti Jayakarta. Di organisasi itu, ia menjadi Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persaudaraan Seni Beladiri dan Tenaga Dalam Prana Shakti Jayakarta.

Organisasi lain yang pernah dipimpinnya di antaranya adalah Pemuda Reformasi Indonesia (PRI) Jawa Barat, Ketua Umum DPP Barisan Islam Moderat (Bima), dan Ketua Forum Peduli Bandung Juara (FPBJ).

Dony Mulyana juga tercatat sebagai Direktur CV Jayaningrat dan Direktur Utama PT Jayaningrat Arsitama, Bidang Konsultan Arsitektur. Ia bahkan pernah menulis buku biografi singkat Susilo Bambang Yudhoyono serta buku Gerakan Olahraga Pernapasan dan Beladiri Tenaga Dalam.

Wakilnya ialah Yayat Rustandi meniti kariernya di PT Kereta Api Indonesia. Ia bekerja di sana selama 26 tahun dari 1988-2014. Kenyang dengan pengabdiannya untuk memajukan perusahaan, Yayat ingin berkontribusi lebih banyak lagi untuk memajukan Kota Bandung.

Yayat Rustandi digandeng Dony Mulyana Kurnia untuk maju di Pilwalkot Bandung 2018 melalui jalur independen. Pasangan yang menyebut diri mereka “Duriat” itu optimis mampu menyaingi pasangan calon yang mendaftar melalui jalur partai politik.

Yayat lahir di Tasikmalaya, 24 April 1961. Pendidikan dasar dan menengah pertamanya dihabiskan di Cianjur. Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 3 Filial Bandung. Tahun 1981, Yayat masuk Jurusan Teknik Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB) lalu menamatkan pascasarjananya di universitas yang sama pada 1994.

Sama seperti pasangannya, Dony Mulyana Kurnia, Yayat juga pernah berlaga di pilkada di daerah lain pada 2005, yakni di Kabupaten Cianjur, namun gagal. Saat itu, ia diusung Partai Persatuan Pembangunan bersama Titin Swastini.

Yayat aktif di sejumlah organisasi, antara lain Ketua Locomotive FC, Sekretaris Jenderal DPP Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA), dan anggota KPM-ITB.

Sejak lulus dari S1 Teknik Geodesi ITB tahun 1986, yayat langsung bekerja di konsultan nasional yang berkolaborasi dengan konsultan asing. Dua tahun kemudian, suami dari Enny Supriyatini itu bergabung di PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Selama bekerja di perusahan kereta api itu, Yayat sudah menduduki sejumlah posisi jabatan dari Kasubdit Properti dan Periklanan hingga Presiden Direktur PT Kereta Api Logistik. Jabatan terakhirnya di PT KAI adalah VP Corporate Secretary. Ia juga pernah ditunjuk menjadi Representatif PT KAI pada Pengembangan dan Perencanaan LRT Bandung, Surabaya, dan Medan dalam rangka MoU Pemerintah RI dengan Pemerintah Prancis.

Pensiun dari PT KAI pada 2014, Yayat selanjutnya bergabung dengan Baramulti Group, perusahaan yang bergerak dalam bisnis energi.

Bersama Dony Mulyana, Yayat telah menyusun berbagai program untuk Kota Bandung, di antaranya penanganan pedagang kaki lima, penanganan kemacetan, program kesehatan, pemberantasan korupsi, pengelolaan sampah, membentuk dewan kota, serta memajukan pemuda dan olah raga.

Wakil dari Doni, Yayat Rustandi, dinilai mengerti dan menguasai persoalan moda transportasi. Karena itu, ia sangat yakin mampu menuntaskan persoalan kemacetan yang selama ini menjadi momok bagi warga Bandung. Selain itu, lulusan Arsitektur ITB angkatan 1990 itu juga menawarkan kenaikan gaji ketua RT dan RW.

“RW dan RT kan gajinya sekarang cuma Rp 300 ribu perbulan. Saya akan buat antisipasi program dengan gaji pak RT dan RW minimal UMR,” ujar Doni di Hotel Ghotic, Jalan Soekarno Hatta No 534, Bandung, Selasa (9/1/2018)

Sebagai informasi, UMR Kota Bandung saat ini berjumlah Rp 3.091.345. Doni mengatakan bahwa kenaikan upah ketua RT dan RW menjadi senilai UMR adalah dalam rangka untuk meningkatkan kesejahterahan rakyat.

Tidak hanya itu, ia berjanji akan mengalokasikan Rp 200 juta per RW. Ia memiliki kebijakan tersendiri perihal tersebut, yaitu dengan mengalokasikan 70% dari Rp 200 juta itu untuk kesejahterahan rakyat, sisanya untuk infrastruktur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *